Agen Poker Domino qq - Judi QiuQiu - Capsa Bandar Kiu Online betting bola, agen bola, judi bola, bola online, situs judi bola Agen Domino QQ, Qiu Qiu Online, Domino Online, Agen Poker, Poker Online, Judi Poker, Judi Domino

Cerita Hatta-Sjahrir di Banda Neira yang Mengundang Tawa

Liputan365.com, Jakarta – Wakil Presiden pertama RI Mohammad Hatta kerap diidentikkan sebagai sosok yang kaku dan tak mudah tersenyum. Dari sejumlah publikasi foto maupun video, pria kelahiran 12 Agustus 1902 ini memang tergambar seperti itu.

Hal ini tak jauh dari penilaian teman karibnya yang juga Presiden pertama RI, Sukarno. Di mata Bung Karno, Hatta adalah sosok yang serius. Ia tak pernah menari, jarang tertawa.

Meski telah bergaul dengan orang penting dari beragam negara dan mengenyam pendidikan ala Barat saat kuliah di Belanda, Hatta tetaplah pria yang kikuk. Menurut Bung Karno, Hatta adalah orang yang akan memerah mukanya bila bertemu seorang gadis.

Tak heran, sikap pemalu itu membuat Hatta sulit untuk mendekati wanita dan baru menikah di usia 43 tahun dengan Rahmi. Itu pun setelah Bung Karno mencomblangi sahabatnya itu.

Bahkan, saat menikahi Rahmi, mas kawin yang dibawa Hatta bukan emas, uang, atau perhiasan. Melainkan sebuah buku filsafat Barat yang dia susun berjudul Alam Pikiran Yunani.

Baca Juga : Bandara Gunung Kidul Akan Layani Pesawat Pribadi dan ATR

Kendati demikian, jangan dikira Hatta tak bisa membuat tawa. Meski tak berniat untuk melucu, banyak tingkah laku serta ucapan Hatta yang mengundang tawa dan senyum. Termasuk ketika dia menjalani masa pembuangan di Banda Neira, Kepulauan Banda, Maluku.

Saat baru saja turun dari kapal yang membawanya ke Banda Neira pada Januari 1936, Hatta dan Sutan Sjahrir sudah membuat banyak orang yang melihatnya tersenyum geli. Betapa tidak, dengan status sebagai politisi buangan, Hatta tetap bergaya dengan membawa 16 peti buku ke Banda Neira.

Bayangkan bagaimana tergopohnya Hatta mengangkat 16 peti berisi ‘harta karun’ yang sudah dia kumpulkan sejak masih kuliah di Belanda dan ikut ditentengnya saat diasingkan ke Boven Digul hingga ke Banda Neira. Tak heran kalau seorang teman sesama buangan bernama Mohammad Bondan bingung melihat semangat Hatta mengangkat belasan peti itu.

“Anda ke sini dibuang atau mau membuka toko buku?” tanya Bondan kepada Hatta seperti ditulis dalam buku Bung Hatta, Pribadinya dalam Kenangan.

Sejak itu, Hatta tinggal serumah dengan Sjahrir selama beberapa bulan, sebelum Sjahrir pindah ke rumah sendiri. Hampir setiap hari, rumah yang menjadi tempat tinggal kedua pejuang kemerdekaan ini selalu ramai oleh bocah-bocah Banda Neira yang beberapa di antaranya kemudian menjadi anak angkat mereka.

Share This:

Be the first to comment on "Cerita Hatta-Sjahrir di Banda Neira yang Mengundang Tawa"

Leave a comment

Your email address will not be published.


*